Breaking

sang DADU


Bagaimana bisa  kita memahami nasib? Saya tak bisa. Tetapi keponakan saya yang berumur lima  tahun punya petunjuknya.

Saat itu  saya sedang bermain berdua dengannya: Ular-Tangga. Setelah
beberapa lama  bermain dan bosan mulai merambati benak, saya meraih surat kabar dan mulai  membaca-baca. Nanda, keponakan saya itu, kemudian berkata, "Ayo jalan!  Gililan Om. Kalo nggak jalan juga, Om bakal nggak naik-naik, di situ telus, dan  mainnya nggak selesai-selesai."

Saya tersadar.

Ular-Tangga,  permainan semasa kita kanak-kanak, adalah contoh yang bagus tentang permainan  nasib manusia. Ada petak-petak yang harus dilewati. Ada Tangga yang akan membawa  kita naik ke petak yang lebih tinggi. Ada Ular yang akan membuat kita turun ke  petak di bawahnya.

Kita hidup. Dan  sedang bermain dengan banyak papan Ular-Tangga. Ada papan yang bernama kuliah.  Ada papan yang bernama karir. Ada papan bernama cinta. Ada papan bernama  keluarga. Suka atau tidak dengan permainan yang sedang dijalaninya, setiap  orang harus melangkah atau ia terus saja ada di petak itu. Suka tak suka,  setiap orang harus mengocok dan melempar dadunya. Dan sebatas itulah ikhtiar manusia: melempar dadu (dan memprediksi hasilnya dengan teori peluang). Hasil akhirnya, berapa jumlahan yang keluar, adalah mutlak kuasa Tuhan. Apakah Ular  yang akan kita temui, ataukah Tangga, Allah lah yang mengatur. Dan disitulah  Nasib. Kuasa kita hanyalah sebatas
melempar dadu. Malangnya, ada  juga manusia yang enggan
melempar dadu dan menyangka bahwa itulah nasibnya.  Bahwa di situlah nasibnya, di petak itu. Mereka yang malang itu, terus saja ada  di sana. Menerima keadaan sebagai Nasib, tanpa pernah melempar dadu.


Mereka yang takut  melempar dadu, takkan pernah beranjak ke mana-mana.
Mereka yang enggan melempar  dadu, takkan pernah menyelesaikan
permainannya.

Setiap kali  menemui Ular, lemparkan dadumu kembali. Optimislah bahwa di antara sekian  lemparan, kau akan menemukan Tangga.

No comments:

Post a Comment

loading...
loading...