Breaking

Aceh Besar Semakin Kecil

Stagnasi pembangunan di Aceh Besar, membuat daerah ini terus tertinggal dengan kawasan lainnya di Aceh. Kehadiran sosok pimpinan yang cerdas dan visionir, kunci utama untuk bangkit bersama dan bangun setara.
***

 
 
 
 
SEBAGAI salah satu daerah di Aceh. Kabupaten Aceh Besar, merupakan satu-satunya kawasan yang berbatasan langsung dengan daratan Ibukota Provinsi Aceh.

Sebelah Utara misalnya, dengan Selat Malaka, Kota Banda Aceh dan Kota Sabang. Sedangkan, sebelah Selatan dengan Kabupaten Aceh Jaya. Timur dengan Kabupaten Pidie dan Barat dengan Samudera Indonesia.

Kabupaten Aceh Besar dengan ibukotanya Kota Jantho, terletak lebih kurang 50 kilometer sebelah timur Kota Banda Aceh. Wilayahnya, adalah 2.974,12 km2 atau sebesar 5,09 persen dari total luas wilayah Provinsi Aceh. Sebagian besar wilayahnya berada di daratan dan sebagian kecil berada di kepulauan. Saat ini, Aceh Besar memiliki 23 kecamatan dengan 68 kemukiman dan 599 unit gampong.

Kebesaran Aceh Besar masa lampau bisa ketahui dengan membaca banyak buku sejarah. Dulu, Aceh Besar memiliki kerajaan Bandar Aceh Darussalam. Luas kerajaan ini meliputi seluruh Pulau Sumatera hingga ke negeri Malaysia dan Thailand. Bahkan, jika dibandingkan dengan kerajaan lainnya di Indonesia, kerajaan di Aceh Besar bisa dikatakan yang terbesar di Indonesia melebihi Majapahit di Jawa Timur. Indikasi ini juga dapat dilihat dari usia kerajaan Aceh yang berumur 390 tahun yang dimulai dari tahun 1513 - 1903 Masehi.

Bukan hanya itu, dalam perjalanan sejarah, selanjutnya Aceh Besar banyak berkontribusi terhadap Aceh dan Indonesia. Beberapa pahlawan perkasa Aceh dilahirkan dari bumi Aceh Besar atau paling tidak berjuang dan syahid di Aceh Besar.

Aceh Besar adalah simbol dan peradaban Aceh. Kehadirannya, merupakan representasi Aceh yang disegani masyarakat, termasuk dunia Barat. Namun kebesaran di masa lampau itu, kini tinggal kenangan kepahitan. Aceh Besar sudah kehilangan kebesarannya dan tidak lagi menjadi simbol dari sebuah peradaban besar. Masyarakatnya seakan tidak mampu menahan beban sejarah yang teramat agung tersebut. Ironisnya, Aceh Besar perlahan-lahan justeru menjadi “kecil”.

Mengapa itu terjadi? Inilah yang jadi soal. Salah seorang putra terbaik Aceh Besar, H. Harmani Harun, SE, MM, Ak berpendapat. Pemerintah Kabupaten Aceh Besar, selama ini terkesan tidak fokus dan kurang adil dalam melaksanakan pembangunan. Makanya jangan heran, sempat muncul ide pembentukkan Kabupaten Aceh Raya. “Sebut saja, ekonomi, sosial masyarakat, infrastruktur, terutama pembangunan di kawasan pedesaan dan pedalaman. Akibatnya, kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah kabupaten berjalan, menjadi lemah dan berujung pada terjadinya ketimpangan dalam pembangunan. Ini tidak bisa dibiarkan terus berlanjut,” ungkap Ketua Pengurus Daerah (PD) Partai Demokrat Aceh Besar ini.

Lebih tragis lagi, dari sisi pendapatan asli daerah. Aceh Besar bahkan masih kalah dibandingkan dengan beberapa kabupaten lainnya, di Aceh. “Anda bisa bayangkan, meski memiliki banyak aset, baik kepemilikan swasta maupun pemerintah. Tapi, semua itu belum memberikan kontribusi maksimal bagi pemasukan daerah. Harusnya, pimpinan daerah ini harus lebih aktif dan kreatif mencari sumber pendapat daerah baru. Bukan sebaliknya, yang sudah ada malah terabaikan dan kurang maksimal digarap,” kata mantan staf Bank Bukopin Banda Aceh ini.

Bukan hanya itu, pembangunan yang tidak merata dan tepat sasaran, sadar atau tidak, menurut Harmini, telah menjadi persoalan pelik lainnya di Aceh Besar. “Bahkan banyak wilayah yang belum tersentuh pembangunan, meskipun dana besar banyak beredar di Aceh. Belum lagi, musibah dahsyat tsunami, 26 Desember 2004 silam. Aceh Besar termasuk salah satu wilayah yang terparah diterjang musibah itu,” sebut alumni Comparative Study Magister Management University of Western Sydney, 1997 ini.

Persoalan lain yang menonjol di Aceh Besar adalah lambatnya pertumbuhan ekonomi masyarakat. Ini disebabkan, arah dan konsep pembangunan tidak fokus dan visioner. “Padahal lahan luas, tapi banyak yang tidak produktif. Bisa jadi, semua itu disebabkan oleh tidak adanya pangsa pasar bagi hasil pertanian warga. Hukum ekonomi, benar-benar terwujud. Ketika produksi banyak, harga menurun atau sebaliknya, bila tidak ada produksi harga barang melonjak. Kedua kondisi ini, sama sekali tidak menguntungkan rakyat, baik sebagai produsen maupun konsumen,” ungkap suami dari HJ. Rahmi, SKM, dosen Poltekkes Provinsi Aceh.

Seperti menghitung anak tangga. Persoalan tadi, ikut memberi efek pada lemahnya akses modal usaha bagi masyarakat kecil. Baik melalui lembaga perbankan maupun lembaga keuangan mikro lainnya. Lagi-lagi, masyarakat menjadi sulit untuk mengembangkan usaha yang berujung kepada tidak meningkatnya perekonomian keluarga dan masyarakat itu sendiri.

Beberapa kendala yang menjadi biangkerok dari persoalan ini adalah. Pertama, kurangnya informasi yang diterima masyarakat. Kedua, masih buruknya sistem pengelolaan usaha sehingga dianggap tidak bankable dan ketiga, tidak adanya jaminan kredit. Untuk itu, tetap dan terus diperlukan pendampingan dari pemerintah dan berbagai elemen lainnya kepada masyarakat pedesaan, sehingga akses layanan kredit untuk membantu usaha masyarakat dapat diperoleh dengan mudah.

“Dari survey yang dilakukan, ada keinginan masyarakat Aceh Besar agar keadaan di wilayah ini cepat berubah. Mereka jenuh dengan kondisi pembangunan yang stagnan. Bagi mereka Aceh Besar tidak hanya sekedar wilayah kabupaten. Sebaliknya, ibarat ibu yang telah merawat, mencintai dan membesarkan. Mereka tidak berani menghardik apalagi melukai perasaannya, karena takut berakibat durhaka,” sebut ayah dari Rika Mulia, B.Mcom (melanjutkan Study di University of Wollonggong Sidney Australia ) dan Rifki Riadi (Fakultas Ekonomi Syiah Kuala Banda) ini berfilosofi.

Di mata Harmani, meskipun berpendidikan tinggi dan memiliki masa depan cerah di luar Aceh Besar, putra terbaik Aceh Besar pasti akan kembali ke tanoh endatunya, karena harus berbakti dan bersimpuh di kaki ibu. Tidak ada keinginan lain dalam hidup mereka, kecuali tinggal bersama untuk merawat serta melayani ibunya yang sudah uzur yaitu: Aceh Besar!

***
Oleh  Rizki Adhar, ModusAceh.com

No comments:

Post a Comment

loading...
loading...